Type Here to Get Search Results !

adsense

Samda : Saya Ikhlas Disebut Bukan Kader, Tapi Saya Ikut Andil PKS Dapat Kursi Ketua DPRD Bengkalis

 

Samsu Dalimunte

DURI -- Mantan anggota DPRD Kabupaten Bengkalis dari PKS, Samsu Dalimunthe alias Samda angkat bicara terkait pernyataan bukan kader partai yang dilontarkan Ketua DPW PKS Riau, Hendry Munief di beberapa media online belum lama ini.


Samda menjelaskan, dirinya ikhlas disebut bukan kader, walaupun dia telah berkontribusi besar pada pemilihan legislatif 2019 lalu. "Kalau dibilang bukan kader gak apa-apa, itu hak dia. Di PKS bukan sedikit suara yang saya sumbangkan, naiknya orang PKS sebagai pimpinan DPRD Bengkalis saya punya andil besar dalam hal itu," ujar Samda, Ahad (25/10) di Duri.


Calon wakil bupati Bengkalis yang maju dengan Indra Gunawan Eet ini tak menyesalkan hal itu. Dia hanya kecewa lantaran sering disebut-sebut bukan kader PKS dan tak ada sedikitpun apresiasi yang didapat kepadanya. "Tak usah untuk kita, kepada tim sukses aja gak ada," tegasnya.


Diungkapkan Samda, suara yang disumbangkan dari tim sukses dan para pendukung di dapilnya itu sebanyak 5.083 suara. Itu merupakan suara terbanyak kedua di PKS setelah di dapil Mandau Khairul Umam berhasil mendulang 6.461 suara.


"Padahal, mohon maaf, saat perhitungan suara itu, kami 700 orang tim di Bathin Solapan zikir akbar di rumah, memohon agar PKS menang. Tapi, terima kasih kepada kami (tim sukses, red) saja tidak ada," ungkapnya.


Lebih lanjut, dia membeberkan bahwa pernah dibuat kecewa dengan pengurus partai PKS lantaran tidak sesuai komitmen yang diucap dengan diikrarkan sebelum dirinya bergabung dengan partai dakwah tersebut.


"Jadi sewaktu usai pelantikan, kami ada teken pakta integritas, saya yang paling terakhir disodorkan. Saya baca di poinnya, poin 9-a itu potongan 30 persen dari penghasilan. Potongan 80 juta untuk kantor per 5 tahun, potongan untuk kawan-kawan yang tak lulus pencalonan 500 ribu, totalnya semua itu 30 persen, kalau dihitung dibanding janji awal gak sesuai," kata Samda.


Padahal sebelumnya usai dirinya di PAW oleh Golkar akibat mendukung Syamsuar maju Gubernur Riau lalu, telah datang perwakilan partai PKS Abi Bahrun dan Khairul Umam ke rumahnya. Lantaran yang datang ustad, kata dia, maka dirinya memanggil ustad juga yang dekat dengannya, yaitu ustad Eko dan Buya Syahril.


"Jadi saat itu kayak sidang, kami hadap-hadapan dan saya ditengah, deal-dealan lah. Perjanjian awal itu potongan kalau jadi DPRD sama dengan yang ada di Golkar, sekitar 3 atau 4 juta. Kemudian ditanya ustad Eko, kalau Samda maju di 2020 bagaimana? PKS siap mendukung, itu kata Abi dan Khairul Umam," tuturnya.


Namun menurut Samda, perjanjian awal itu meleset semua, sehingga kekecewaan besar diterima oleh dirinya dan para pendukung. "Dari awal saya paling komitmen, tapi itu malah berbeda dengan yang disebutkan dengan ikrarkan," jelasnya.


Lantas menanggapi tuding-tudingan bukan kader PKS tersebut, Samda menyebut bahwa semua ini adalah politik, kejujuran dan komitmen adalah kunci.


"Saya bilang ini politik, tak ada yang ingin saya gerus, kekuatan saya gak ada, kekuatan hanya kejujuran dalam hidup ini. Kemudian apa yang saya ucapkan A itu A, saya gak ingin hari ini A besok B, kalau begitu kita tak ingin berperang, tapi berpisahlah dulu sementara. Dan gak ada musuh dan teman abadi dalam politik, yang ada hanya silaturahmi," pesannya.


Ditambah Ngatno Eko Prawiro, tim sukses Samda waktu caleg 2019, bahwa beliau diakui kader atau tidak kader itu tak penting. " Yang harus diingat, paling apa yg didapatkan PKS hari ini tak lepas dari kontribusi sumbangan suara beliau. Coba petinggi PKS Bengkalis merenung sejenak apa yang diucapkan ketika meminang Samda dan apa realisasinya? karena besok semuanya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT, " katanya.(*)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Iklan



Hollywood Movies