Type Here to Get Search Results !

adsense

~ ADA ADA SAJA ~

 


Akhirnya bulan itu pun muncul juga, walau terkesan malu-malu ia menyembul dari balik gumpalan awan hitam. Cahayanya yang kian redup seolah tak kuasa lagi tuk menerangi bumi, malam ini tepat pukul dua lewat delapan menit dinihari saat aku beranjak dari tempat dudukku, usai sholat Isya setelah makan malam dengan segelas kopi aku duduk diteras rumah. 


Suasana malam begitu terasa dingin, angin berhembus kencang awan hitam berarak memayung langit seolah pertanda hujan kan turun mengguyur bumi, namun sampai aku beranjak dari teras rumah ini hujan pun tak kunjung turun selain gerimis kecil yang mengguyur sesaat. Aku pun kemudian menggoreskan deretan kata sebagai untaian kalimat sebagai bentuk ungkapan rasa yang ingin kukisahkan.


Dua jam lebih aku duduk diteras ini, sampai kopi jantan kesukaanku jadi korban tuk menemaniku duduk, lamunananku pun melayang jauh, sejauh rembulan di ufuk timur yang baru menyembul, kisah dan cerita hidup dan kehidupan pun terbayang, semua terjadi bagai air mengalir, ada suka dan tak jarang duka.


Ada susah walau sering ku alami bahagia, semua teringat, dan memori ingatan ini pun sangat jelas sekali mengingatnya. Terlebih pada satu peristiwa lucu yang jadi pada siang itu. 

Siang itu usai sholat zuhur di musholla kantor, aku sedang duduk di kantin kantor, selain delapan meja dengan empat kursi dimasing-masing mejanya kantin dengan ukuran yang cukup lebar dan sangat terjaga kebersihannya itu pun menyediakan tiga meja lainnya sebagai tempat duduk lesehan. 


Sengaja aku mengambil posisi di sudut kantin, duduk lesehan dengan menyandarkan tubuh dan menjulurkan kaki, udara siang itu terasa begitu terik, namun aku lebih memilih memesan kopi ketimbang minuman dingin lainnya. Tentu kopi tanpa sianida, hehehe. Karna memang seingatku rasanya selama ini selain kopi tak pernah aku memesan minuman lainnya, sehingga sang pemilik warung paham betul dengan minuman yang kan ku pesan, tanpa disebut pastilah kopi yang kan diantarnya untukku. 


Dan baru saja kopi ku aduk-aduk kembali tiba-tiba hp ku bordering, entah dimana posisi orang yang menelponku namun ia berkata dengan bahasa yang terbata-bata dan ada kesan seolah menahan tangis, “ ayah tolonglah aku yah, aku ditangkap polisi yah, dia minta uang damai 50 jt katanya yah, jika tidak aku akan diproses dikantor polisi dan dipenjara sampai lima tahun, aku takut yah, tolong aku yah “ demikan omongan dari ujung telpon itu. 


Dan seketika insting dan naluriku berjalan, allamak siang bolong begini, awak sedang pusing ulah dek piti nak di kibul pulak. Aku terdiam sejenak, dan ke isenganku pun beraksi. “ posisi kau dimana sekarang “ tanyaku seolah nyambung dengan omongan org di ujung telp tersebut, “ ayah di mana sekarang, cepatlah yah tolong aku, aku hanya di kasih waktu satu jam jika tidak aku di bawa ke kantor polisi yah, toloooong selamatklan aku kali ini yah, aku janji tak akan mengulangi lagi yah “ suara itu justru balik bertanya keberadaan posisiku sembari mengiba iba. 


‘ ayah lagi di bagan nak, kau itu dimana cepat katakana dimananya sekarang posisimu “ ujarku kembali seolah merespon omongannya. “ aku di bawa ke pom bensin dekat pasar itu yah, cepatlah yah, ini polisi itu katanya mau ngomong langsung sama ayah “ sesaat sambungan telpon itu seolah berpindah tangan namun untuk beberapa saat samar ku dengar dari ujung telpon seperti ada pembicaraan yang penuh hardikan dan nada ancaman terhadap orang yang mengaku sebagai putraku tersebut. 


“ halo selamat siang pak, sekarang anak bapak kami tangkap karna sabu-sabu, agar tidak berlanjut proses hukumnya bisa ditempuh jalur damai, bapak bisa transper uang lima puluh juta, dan anak bapak kami bebaskan namun tolong di bimbing dan di ajar anak bapak ini jangan lagi tersandung kasus yg sama sebab masalah narkoba berat hukumannya pak “.


Demikian kata orang yang mengaku sebagai polisi yang menangkap orang yang juga mengaku sebagai putraku. “ eee pak sebelumnya mohon maap yangg sebesar besarnya pak jika sampai sebanyak itu saya tak ada uang do pak “ kataku kembali dengan nada seolah memelas. “ sementara berapa uang yg bapak punya “ ujarnya cepat menimpali omonganku. “ mungkin kalo lima belas ada pak itu pun harus nunggu agak dua tiga jam lagi karna saya lagi ada urusan penting pak “ jawabku menyakinkan. 


“ begini saja pak kami kasih waktu satu jam buat bapak segera bapak transper dulu yg ada, dan proses damai bisa kita lanjutkan lagi nanti “ – “ baik, baik, lah pak tapi saya mohon jika sampai lima puluh juta saya tak ada uang do pak, itupun yang ada sebenarnya untuk biaya kuliah anak pak “ kataku lagi mengikuti irama omongannya. 


“ bapak jika sayang dan kasihan sama anak segera urus anak bapak ini, kami sudah menawarkan jalur damai tapi bapak malah mempersulit keadaan “ ujarnya seperti meninggi dan sedikit mengancam. “ ia bapak, tapi uang saya hanya segitu “ baru bicara begitu org itupun langsung menimpaliku “ ya segera bapak kirim yg ada saja dulu “ katanya. 


Sebenarnya aku sudah geli merasakan tingkah org yg mengaku sbg putraku dan sbg polisi ini, begitu culas cara mengkais rezki sampai harus menipu dan memeras. Akhirnya akupun berkata padanya. “ maaf bapak, anak saya itu sudah sering menyusahkan dan uang saya sudah banyak habis dibuatnya, jd saya sudah pasrah saja, mau bapak penjara mau bapak hukum bila perlu tembak sajalah pak, tembak saja dia sekarang biar saya dengar pistol bapak berbunyi dan saya dengar juga dia menjerit, hayo pak tembak sekarang pak “ mendengar omonganku itu si polisi gadungan dan pemeras itu langsung mematikan telponnya. Dan akupun tertawa dibuatnya, siang bolong dapat hiburan gratis.


Enak saja mengaku anakku, lah wong anak laki awak saja baru SD, dasar penipu tengik, semoga benar benarlah engkau di tangkap polisi.

Duri, kopi pagi 16 10 2020

PAW Andesrabat. ( Priono Arya Winata anak desa Ranjo batu )

Penyuluh agama Islam non PNS

Kecamatan Mandau

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Iklan



Hollywood Movies